Budaya

Budaya Perancis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Lukisan La Liberté guidant le peuple.

Budaya Perancis terbentuk oleh geografi, sejarah dan pengaruh dari kelompok dalam dan luar negeri. Perancis, terutama Paris, telah memainkan peran penting sebagai pusat kebudayaan dan seni sejak abad ke-17. Dari akhir abad ke-19, Perancis juga telah memainkan peran penting dalam seni modern, film, fashion dan makanan. Pentingnya budaya Perancis bergantung pada kepentingan ekonomi, politik dan militer Perancis.

Senin, 23 Mei 2011

budaya perancis

KEBUDAYAAN PERANCIS

1. BUDAYA PERANCIS SECARA UMUM

Orang perancis terkenal sangat dingin dan arogan. Salah satu cara menghadapi hal ini adalah “parlez franVais“(bicara dengan bahasa Prancis-red). Penduduk perancis cenderung memiliki anggapan bahwa orang Amerika terlalu ramah. Di perancis, anda akan lebih dihargai jika anda mampu bersikap lebih tenang bahkan sampai ditaraf yang cenderung dingin baik dalam tindakan maupun dalan ucapan. Orang perancis cenderung menganggap sikap ramah yang terbuka sebagai hal yang tidak baik dan kurang menyenangkan. Di restoran perancis porsi yang disajikan lebih sedikit dibandingkan di negara-negara lain dan jika dilihat dari postur tubuhnya orang perancis berbadan agak kecil, hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh porsi makan mereka yang hanya seidkit. Ketika makan orang perancis selalu makan menggunakan garpu dan pisau, tanpa sendok. Sendok hanya digunakan untuk minum sop. Kebanyakan orang perancis lebih menyukai daging daripada ikan. Kebiasaan orang perancis yang perlu diketahui bahwa sehabis makan selalau minum kopi. Minum kopi rat-rata dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Itulah sebabnya deretan yang paling banyak di sepanjang jalanan di paris terdapat café atau tempat minum.

Perancis memiliki skor Individualism yang tinggi. Mereka respek pada kebebasan serta tanggung jawab individu dan berpandangan bahwa segala sesuatu haruslah diperjuangkan sendiri, dan harus melakukan segala pekerjaannya dengan sungguh sungguh sebagai perwujudan dari perjuangan individualismenya. Patut digarisbawahi bahwa Individualism tidaklah sama dengan mementingkan diri sendiri atau egois, namun Individualism fokus pada tanggung jawab serta hak dan kewajiban Individu.

2. BUDAYA BERBISNIS DI PERANCIS

Orang Prancis terkenal sangat dingin dan arogan. Salah satu cara menghadapi hal ini adalah parlez franVais (bicara dengan bahasa Prancis-red). Kalau bertemu klien atau membuat surat bisnis, gunakan titel Monsieur dan Madame dengan nama keluarga. Selain itu, dalam pertemuan sering terjadi ciuman pipi, di Prancis ini menandakan keakraban,. Orang Prancis sangat suka berdebat dan agak sulit ‘dipatahkan’, jadi Anda harus memiliki argumen yang kuat untukmenyampaikan ide.
Berikut beberapa hal yang perlu diketaui mengenai budaya berbisnis orang perancis, yaitu:

Greetings

Bagi orang perancis saat mengucapkan greeting harus diikuti dengan nama mereka, misalnya Bonjour Doni, kemudian melakukan shaking hands dan melakukan kontak mata yang mendalam, tak jarang diikuti oleh pelukan bahkan ciuman. Begitu juga andaikan setelah mengucapkan greetings, kita bertemu lagi dengan orang yang sama, maka kita harus menyapanya lagi dengan kata-kata Re – Bonjour Doni, adalah hal yang menghina jika tidak melakukan kontak mata saat mengucapkan BonjourDoni karena hal itu bagi mereka merupakan penghinaan terhadap nilai nilai Individualyang mereka junjung tinggi, dimana terkesan tidak memperhatikan lawan bicaranya.

Gender

Peran gender tidak dibedakan, baik laki laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama.Organisasi Perancis tidak menekankan kepada apakah seseorang itu pria atau wanitauntuk menduduki jabatan tertentu seperti di negara negara maskulin, namun lebihmerujuk kepada kemampuan untuk analisa, rasionalisasi, sintesis logika berpikir, problem solvings.

Dimensi Kultur

Perancis memiliki karakteristik Universalism vs Particularism.Dari dimensi ini, Perancis tergolong moderate, artinya tidak universalism kuat dan juga tidak particularism ekstrem. Orang Perancis memang lebih suka untuk merekrut sesama orang Perancis, seringkali mereka memang sangat subyektif dalam melakukan perekrutan, namun mereka juga tidak mau melanggar rules, andaikata memang tidak diperbolehkan membentuk tim yang homogen , semuanya terdiri dari orang Perancis, serta apabila orang Perancis tersebut memang tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan , mereka juga tidak akan memaksa. Sehingga mereka tetap dapat mempertanggung jawabkan hasil kerja bagi setiap orang Perancis yang mereka rekrut.

Dimensi Emosional

Dalam dimensi ini, Perancis cenderung bersifat Emosional walaupun tidaksetinggi Cina atau Venezuela. Mereka mementingkan baik sentuhan verbal maupun nonverbal. Adalah umum bagi orang Perancis untuk melakukan sentuhan, tatapan mata mendalam, shaking hands, bahkan ciuman. Tak heran orang Perancis dikenal sebagai orang orang yang romantis sampai sampai identik dengan French Kiss. Watak orang Perancis adalah to the point, tidak suka basa basi, tidak berlama lama bercengkerama yang tidak ada kaitannya dengan bisnis atau masalah tertentu. Imbasnya, mereka seringkali mengungkapkan ketidak puasan nya terhadapsesuatu atau lawan bicaranya secara to the point, tanpa basa basi sama sekali., bahkan memecat karyawanpun secara terus terang, tanpa banyak alasan serta penjelasan.
Motivation and Leadership
Perancis memiliki skor Uncertainty Avoidance yang tinggi, dalam hal ini maka mereka selalu merindukan rasa aman dalam kehidupannya. Seorang Perancis tidak akan keberatan untuk bekerja sangat keras , karena menurut mereka, dengan bekerja keras maka mereka akan memiliki performance yang bagus di mata manajer, serta berpeluang mendapatkan promosi ataupun berbagai benefit dari perusahaan, di mana semuanya itu bisa mengakomodasi kerinduan mereka pada rasa aman : aman secara financial, aman dalam hal kedudukan kerjanya, serta amandalam status sosialnya. Hal inilah yang memotivasi orang-orang Perancis untuk giat bekarja.
seorang leader cenderung menggunakan gaya manajemen “ tangan besi “.Mereka benar benar menjaga jarak dengan bawahannya, dan benar benar memutuskan apapun sesuai dengan keinginan dan pertimbangan mereka, tanpa mempertimbangkan aspirasi bawahannya. Dalam gaya manajemen Perancis, mereka menutup rapat-rapat aspirasi dari bawahan , apalagi mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Selain itu ,dengan kondisi uncertainty avoidance yang juga tinggi, para leader di perancis bersikap antipati terhadap adanya demokrasi dalam organisasi mereka, karena dari sudut pandang mereka, demokrasi merupakan pangkal dari ketidak pastian. Leader memiliki hakprerogative dan berbagai hak khusus lainnya dalam memimpin organisasi.

3. Kebudayaan Seni Di Perancis

Budaya mengacu pada penyatuan pengetahuan, pembelajaran pengalaman,, keyakinan, sikap, nilai, makna, hirarki, agama, pengertian tentang waktu, peran, hubungan spasial, konsep dunia, dan benda-benda materi dan harta benda yang diperoleh oleh sekelompok orang di perjalanan generasi melalui individu dan kelompok berusaha.

Budaya Prancis yang beragam, mencerminkan perbedaan regional serta pengaruh imigrasi terakhir. Prancis telah memainkan peran penting selama berabad-abad sebagai pusat budaya, dengan Paris sebagai pusat dunia budaya tinggi.

Filsafat
Perancis telah menghasilkan sejumlah besar filsuf terkemuka dalam tradisi humanis Eropa. Salah satu yang pertama adalah Montaigne, pada abad 16, seorang moralis yang diilhami yang mendirikan esai sebagai bentuk seni. Kemudian muncul Descartes, master logika, dan filsuf Pascal.

Penulis Perancis
Penulis dan intelektual tradisional menikmati prestise tinggi di Perancis. Salah satu Agustus sebagian besar lembaga Perancis adalah Academie francaise, yang 40 anggota, kebanyakan dari mereka penulis, telah diucapkan pada event nasional dan, pada kesempatan, diadakan jabatan publik.

Teater
Tiga klasik dramawan sastra Prancis, Racine, Molière dan Corneille, hidup pada abad ke-17. Komedi satir yang Molière kesombongan dan kelemahan dari sifat manusia. Corneille dan Racine wrote tragedi ayat mulia.

Puisi
Yang terbesar dari penyair Perancis awal adalah Ronsard, yang menulis soneta tentang alam dan cinta pada abad 16. Lamartine, seorang penyair besar dari awal abad 19, juga mengambil alam sebagai salah satu tema nya (puisinya Le Lac menyesalkan sebuah cinta yang hilang).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s